Cerita Karimun Estilo Cruising 100-160km/jam di Tol Cipali

3

Akhir tahun kemarin kami sekeluarga melakukan perjalanan dari  Jogja Ke Jakarta untuk menghadiri acara keluarga. Dengan alasan kemudahan dan efisiensi biaya transportasi saat di Jakarta karena semua anak-anak ikut maka diputuskan untuk membawa Karimun Estilo. Berangkat dari Jogja Jum’at sore hari, karena harus menunggu anak pertama kami yang duduk di kelas 3 sekolah dasar pulang sekolah terlebih dahulu. Sengaja berangkat di hari Jumat supaya nggak terlalu lama ijin sekolahnya, cukup dua hari yaitu sabtu dan senin, karena acara keluarga di Jakarta pas di hari Minggu.

Suzuki Karimun di Jalan Tol

Ilustrasi: Mengemudi di Jalan Tol yang Sepi

Melakukan perjalanan luar kota malam hari sebenarnya bukan hal yang biasa MasMun lakukan. Hampir setiap bulan perjalan Jakarta-Jogja dengan membawa Suzuki Karimun dagangan dilakukan di siang hari. Karena pada malam hari lubang di jalanan tidak terlihat jelas sehingga lebih sulit kalau mau menghindar. Tau sendiri kan mobil city car seperti karimun yang ukuran bannya kecil kalau masuk lubang rasanya gimana? Ghhrrrr… Padahal di daerah Pantura tepatnya antara Tegal hingga Pemalang aspalnya bergelombang dan berlubang-lubang. Oh iya karena waktu itu belum memasuki tahun 2019 Tol Trans Jawa belum di buka jadi rute Pantura dari Pemalang hingga Tegal wajib dilewati untuk jalur utara.

Berangkat sore hari dengan kekuatan personil penuh(ceilehhh), 3 pasukan kecil dan istri. Anak-anak selalu bahagia kalau diajak jalan jauh, Alasannya? Karena setiap perjalanan jauh jok belakang Karimun Estilo selalu dilipat rata lantai, dilapisi busa dan bawa selimut. Maka bagi mereka perjalanan jauh ini hanya seperti berpindah kamar tidur.

Hampir setiap perjalanan keluar kota jok belakang selalu kami lipat, sebagian besar barang bawaan kami taruh dibawah jok depan dan di lantai kabin belakang jok depan. Sehingga hanya sebagian kecil barang bawaan yang ditaruh di kabin belakang. Akibatnya kabin belakang jadi cukup lapang untuk ruang anak-anak, bahkan ibunya pun kadang tidur dibelakang dan anak yang paling besar gantian duduk di depan.

(Baca juga: Memaksimalkan Fungsi Ruang di Bawah Jok Suzuki Karimun)

Tidak ada yang spesial dalam perjalanan karena hampir setiap bulan MasMun memang rutin melakukannya, yang membedakan hanyalah kali ini dengan mobil sendiri dan membawa keluarga. Memabawa mobil sendiri tentu lebih yakin daripada sekedar membawa mobil dagangan, Walaupun sama-sama Suzuki Karimun.

Kenapa? Karena kita sendiri yang merawat mobil tersebut. Masing-masing pribadilah yang tahu kondisi Suzuki Karimun yang kita gunakan. Pada saat itu kondisi mobil baru ganti oli beserta filternya, saringan udara juga, kampas rem masih tebal, minyak rem belum lama ganti, ketebalan ban masih diatas 70% sehingga bisa dikatakan dalam kondisi prima.

Memulai Perjalanan Sore hari

Perjalanan menuju Jakarta MasMun memilih jalur utara seperti biasanya, selama di Pantura MasMun cukup dengan mengekor bus malam yang besar-besar. Seru juga sebetulnya lewat pantura malam-malam ngekor bus malam yang besar dengan permainan kode lampu sein-nya selama perjalanan. Kita bisa tau di jalur di sebelah kosong atau tidak dengan membaca kode dari lampu sein  bus di depan kita dan itu terjadi sepanjang perjalanan di pantura oleh semua pengemudi bus malam. Yang nggak enak, kalau bus malam/bus AKAP bannya besar-besar sehingga jika ada jalan rusak mereka tidak tidak terlalu terasa, kalau ban Karimun Estilo ukurannya sebesar “kue donat” jadi begitu lewat jalan bumpy karena tidak sempat menghindar ya begitu deh rasanya. 😀

Selepas jam 10 malam tibalah kami di pintu tol Brebes Timur, ingat perjalanan saat itu sebelum Tol Trans Jawa dibuka pada tahun 2019. Dilema yang MasMun kahawatirkan sebelum perjalananan terjadi sesuai prediksi. Yaitu jalan tol sepi dan seluruh penumpang tertidur pulas, tingggallah sang pengemudi Suzuki Karimun melek seorang diri.

Berita kecelakaan di Tol Cipali karena kelalaian pengemudi sudah sering sekali muncul di media, bahkan MasMun sendiri pernah melihat Avanza yang melintir ke tengah parit di median jalan tol. Ngantuk adalah musuh utama di Tol, apalagi malam hari. Itu sebabnya kami selalu melakukan perjalan siang hari.

Cara supaya nggak ngantuk? Ngobrol dengan penumpang atau mendengarkan musik. Penumpangnya sudah tidur semua, dengarkan musik diatas kecepatan 80km/jam di Suzuki Karimun suaranya pun sudah tidak jernih. MasMun pikir satu-satunya cara agar tidak timbul rasa ngantuk adalah dengan cara memacu mobil dengan kencang sehingga konsentrasi benar-benar maksimal, tidak ada celah untuk ngantuk atau melamun yang menyebabkan kecelakan.

Mulai Konsentrasi Penuh Tancap Gas

Akhirnya tidak lama setelah masuk gerbang Tol Cipali kami putuskan untuk memacu mobil diatas kecepatan 100 km/jam dengan kondisi AC Off. Range-nya antara 100-160km/jam, di bawah 100km/jam hanya sesekali ketika melewati bekas gerbang TOL yang sudah tidak difungsikan lagi. Kenapa AC dimatikan? Kami pikir agar suplai oksigen dikabin bisa maksimal dengan membuka sedikit jendela dan agar kompresor AC tidak usah bekerja keras pada putaran mesin diatas 4000rpm.

Mengemudi dikecepatan tinggi benar-benar membutuhkan konsentrasi. Suzuki Karimun dalam kondisi tanpa penumpang terasa limbung dikecepatan tinggi, tapi jika penumpang penuh suspensi belakang yang limbung benar-benar berkurang drastis. Ban belakang benar-benar berasa menapak, Sangat stabil.

Saat kecepatan diatas 100 km/jam, yang kami antisipasi adalah pecah ban. Walalupun sebelum berangkat tekanan ban mobil sudah MasMun cek, namun ban yang kami gunakan hanyalah GT Radial berprofil standard. Sehingga pada saat nyetir konsentrasi kami benar-benar full dengan menggenggam setir secara kuat selama kecapatan diatas 100, kalau-kalau terjadi pecah ban setir tetap dalam kondisi lurus dan pengereman akan dilakukan dengan bertahap, tidak panic braking dengan menekan penuh pedal rem yang dapat menyebabkan mobil melintir.

Lari hingga 160 km/jam dengan kaca sedikit terbuka menimbulkan bunyi angin yang cukup kencang, mungkin itu pula yang membuat rasa kantuk tidak datang. Entah apa yang ada dipikiran pengemudi Honda CRV, Toyota Yaris, dan Fortuner yang sempat Masmun tempel ketat. Mereka berpikir sudah cukup kencang, tapi masih ada mobil kecil berlogo “S” yang membuntutinya di belakang.

Untuk over taking di jalan tol Masmun tidak Zig-Zag pindah-pindah jalur. Sadar yang dibawa hanyalah mobil ber-CC kecil dan yang mau disalip mobil 2000cc ke atas, maka hampir pasti mobil-mobil yang sudah kencang itu tidak akan memberi jalan. Alih-alih memberi jalan mereka pasti tambah injak gas ketika sudah diberi lampu dim. Kalau sudah begitu cukup diikuti terus saja tanpa harus menyalakan lampu dim apalagi membunyikan klakson.

Setelah lama di tempel dari belakang lama-lama mereka akan minggir sendiri, bukan karena Suzuki Karimun lebih kencang dari Fortuner atau CRV. Melainkan karena endurance atau faktor ketahanan si pengemudi. Sehingga kita bisa melalui mobil lain dengan cara yang elegan tanpa memotong jalurnya atau menyalakan  lampu dim berkali-kali. Cara itu yang dari dulu MasMun terapkan, tempel di jalur kanan kasih dim sekali sudah cukup. Kalau pengemdudi mobil di depan tetap pelan di jalur kanan, baru ambil dari jalur kiri dengan menyalakan sein kiri terlebih dahulu.

Akhirnya Fisik Tumbang Juga

Setelah dua jam lebih melahap jalur tol yang sepi dengan konsentrasi tinggi, tanpa bisa ditolak rasa kantuk itu datang juga dengan diikuti rasa pening di tangah dahi. Ternyata konsentrasi tinggi selama lebih dari dua jam membuat dahi terasa pening. Dari situ kecepatan mulai diturunkan ke range 100-110 km/jam untuk sampai ke rest area terdekat.

Sesampainya  di rest area terdekat MasMun turun di parkiran dan langsung Cek tekanan angin ke empat ban dengan preasure gauge sambil mengecek kondisi tapak ban. Tujuannya untuk memastikan bagian yang paling dikhawatirkan di kecepatan tinggi ini masih dalam kondisi prima. Ternyata masih baik-baik saja dan setelah negebut segitu lama tekanan ban hanya naik 2-3Psi dibanding kondisi awal ketika ban dalam kondisi dingin saat akan berangkat, tentu jika pada saat siang hari peningkatan tekanan ban akan lebih tinggi karena suhu permukaan jalan juga lebih panas.

Walaupun bannya hanya GT Radial tipe Champiro Eco ternyata tidak ada masalah untuk melahap kecepatan tinggi lebih dari dua setengah jam. Tidak lupa kami membuka kap mesin untuk cek volume oli mesin dan air radiator. Tidak wajib sih, tapi rasanya tangan gatel kalo tidak buka kap mesin untuk mengecek hal-hal seperti itu.

Selesai mengecek kondisi mobil kami langsung menuju sebuah mini market, awalnya hanya membeli 1 gelas Capucino dan roti untuk disantap di mobil ditemani seluruh penumpang yang tetap tertidur pulas. Duduk dibalik kemudi sambil minum segelas capucino sama sekali tidak membuat mata ini segar. Akhirnya MasMun beli satu gelas lagi kopi hitam Americano ditemani satu botol air mineral dan tetap saja kantuk itu tidak hilang.

Hingga akhirnya MasMun merebahkan badan di kabin belakang yang rata sambil meluruskan kaki ke atas sandaran jok depan, tidak lupa pintu dikunci namun semua kaca terbuka setengah dan barang berharga disimpan di bawah jok. Yah niatnya buat meminimalisir resiko kejahatan. Hingga akhirnya begitu bangun tanpa sadar sudah tertidur 2 jam lebih di rest area. Hahaha,, jadi ternyata konsisten ngebut diatas 100 km/jam hingga 160km/jam(gas belum pol) tidak jaminan membuat kita lebih sampai ditujuan, malah membuat kami menikmati semilir angin di rest area pada dini hari yang mebuat kami sekeluarga tertidur pulas hingga adzan subuh di sebuah mobil kecil bernama Suzuki Karimun.

Topik: Mengemudi | Tagged , .

3 komentar
  • Febianto
    April 1, 2019

    Jadi inget pengalaman mudik lebaran tahun 2018 kemaren. Jakarta – Wonosari PP via jalur selatan. Poll irit bbm nya. Mungkin karena mobil kecil, goyangannya cukup terasa. Alhamdulillah ngga ada kendala dengan Estilonya. Pengalaman mengemudi karimun Estilo yang sangat mengesankan.


  • Ananda
    February 17, 2019

    Saya juga bulan lalu pakai Estilo 2012, penumpang 2 jadi total 3 (saya, ayah, dan ibu)
    Tol yg dilalui sama, dari Jogja juga.
    Tapi cuma berani maksimal 110kmh karena kalau di atas 100 setir kaya jadi super enteng, takut belok sendiri.


    • MasMun
      February 18, 2019

      Betul mas Ananda kalau mobil ngebut setir jadi terasa enteng, karena itu selama jalan kencang saya pegang setir kuat-kuat. Karena kalau tidak akan riskan dan itu juga sebagai indikator, kalau pegangangan ke setir saya nggak kuat tandanya kita sudah lelah. Berarti harus segera istirahat. 😀


Tambah Komentar

Email anda tidak akan ditampilkan. Nama & Email wajib di isi


+